6 Obat Covid Isolasi Mandiri yang Berbahaya

0
196
Obat covid isolasi mandiri

Setelah membahas enam obat covid isolasi mandiri yang boleh dikonsumsi berdasarkan anjuran para pakar kesehatan, berikutnya kita akan membahas obat apa saja sih yang harus dihindari.

Hal ini akan harus diperhatikan untuk pasien covid-19, guna mencegah kondisi yang mungkin saja semakin buruk.

Terkait hal ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia juga ikut menegaskan kalau dalam keadaan sakit apapun, tetap harus mengikuti instruksi tenaga kesehatan pasien dengan tepat.

Jangan juga mengonsumsi obat tanpa adanya bukti ilmiah yang kuat, atau hanya sekedar mendengar dari omongan tetangga, kabar burung yang berada di media sosial, ataupun broadcast yang tersebar di grup-grup WhatsApp.

Jadilah warga yang pandai untuk memilah informasi yang benar, dan jangan mudah termakan berita hoax. Termasuk perihal jenis obat covid isolasi mandiri yang tidak boleh atau harus dihindari. Ketahui juga dosis yang tepat, untuk mencegah konsumsi yang berlebihan.

Berikut ini adalah jenis obat yang harus dihindari pasien Covid-19 saat isolasi mandiri di rumah.

Jenis obat covid untuk isolasi mandiri yang tidak boleh dikonsumsi

obat covid isolasi mandiri
Source: Pixabay

Informasi ini bersumber dari artikel kesehatan yang terpercaya, serta web yang dapat menjadi referensi terbaik

Hidroksiklorokuin

obat covid untuk isolasi mandiri
Source: Pixabay

Obat yang memiliki fungsi untuk mencegah dan mengobati penyakit malaria ini, awalnya dikabarkan dapat mengobati pasien Covid-19.

Tapi setelah melalui hasil pengujian atau riset yang dilakukan pakar kesehatan, menunjukan kalau tidak ada efek positif yang muncul dari pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit akibat terinfeksi Covid-19.

Justru sebaliknya obat ini dapat meningkatkan risiko kematian. Sehingga, jangan coba-coba untuk mengonsumi obat malaria yang satu ini saat terinfeksi virus Corona.

Obat antibiotik tanpa resep dokter

oBAT COVID ISOLASI MANDIRI YANG HARUS DIHINDARI ADALAH ANTOBIOTIK
Source: Pixabay

Seringkali masyarakat mudah menanggapi berita yang tersebar tentang obat covid-19 tanpa mempertimbangkan, atau menanyakan pada ahli kesehatan.

Karena hal inilah ahli kesehatan dan WHO mengingatkan agar masyarakat terutama yang menjalani isolasi mandiri di rumah, tidak asal mengonsumsi obat-obatan tersebut. Terlebih jika menyangkut tentang antibiotik yang belum jelas kebenarannya

Mengonsumsi obat yang salah tidak akan berdampak baik pada kesehatan, karena bukan saja  tidak berdampak pada virus namun jauh lebih berbahaya.

Sehingga ada baiknya untuk berkonsultasi pada dokter, agar dapat mendapat resep yang tepat. Pasalnya tidak semua orang mengalami infeksi covid yang sama. Ada yang masuk dalam golongan pasien covid-19 tanpa gejala, bergejala ringan, sedang maupun berat. 

Jika membutuhkan analisa lebih lanjut maka dokter akan memberitahu penanganan yang tepat.

Obat Lopinavir

Obat covid isolasi mandiri Lopinavir
Source: Pixabay

Obat covid isolasi mandiri berikutnya yang tidak boleh dikonsumsi adalah Lopinavir. Jenis obat yang merupakan kombinasi obat antivirus yang digunakan dalam pengobatan untuk menangani infeksi HIV, dan menjadi obat yang dipakai dalam terapi antiretroviral (ART) bagi penderita HIV.

Dari riset Ilmuwan Inggris Universitas Oxford menunjukan hasil uji coba pada bulan Juni 2021 yaitu lopinavir tidak memberikan manfaat dalam menurunkan risiko kematian pada pasien Covid-19.

Sementara itu pada pada Oktober 2020, temuan lengkap yang terbit di jurnal medis The Lancet, menuliskan ada 23 % kematian sejak 28 hari pemberian obat HIV tersebut.

Data lainnya menunjukan pasien yang mendapat perawatan biasa, tercatat 22 % meninggal.

Obat Ivermectin

Obat Ivermectin
Source: Pixabay

Selain obat Hidroksiklorokuin yang dikabarkan memiliki fungsi untuk mengobati pasien Covid-19. Ada juga obat covid yang tidak boleh dikonsumsi pasien isolasi mandiri yaitu ivermectin.

Pasalnya bukan saja tidak masuk dalam daftar obat-obatan yang memiliki izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat ini juga tidak bisa sembarangan diperjualbelikan.

Kepala BPOM Penny K Lukito menegaskan kalau Ivermectin adalah obat keras yang tidak boleh dibeli secara perorangan tanpa resep dokter, dan tidak bisa diperjualbelikan tanpa distribusi obat yang baik.

Penny juga mengatakan saat ini penggunaan Ivermectin hanya untuk berfungsi sebagai obat untuk mengatasi cacingan dan infeksi cacingan.

Dari fakta inilah masyarakat tidak boleh menggunakan obat ini secara sembarangan untuk mengobati penyakit apalagi mencegah Covid-19. Terlebih lagi belum ada data uji klinis yang mendukung Ivermectin sebagai obat Covid-19.

Obat remdesivir

Obat remdesivir
Source: Pixabay

Obat berikutnya yang tidak masuk dalam rekomendasi WHO untuk mengobati pasien Covid-19 adalah Remdesivir.

WHO menegaskan kalau saat ini belum merekomendasikan penggunaan remdesivir pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, dalam tingkat keparahan penyakit apapun.

Pasalnya karena belum ada bukti klinis yang cukup kuat bahwa penggunaannya bisa mendatangkan manfaat.

Meskipun begitu  covifor remdesivir sudah mendapat persetujuan EUA dari BPOM Indonesia dalam pengobatan pasien Covid-19.

Tidak perlu khawatir karena obat yang diperbolehkan sudah sesuai dengan protap, yang sudah disetujui tentunya dari organisasi profesi ini juga kami dampingi untuk percepatan apabila membutuhkan data pemasukan atau data untuk distribusinya.

Namun dengan begitu, bukan berarti pasien Covid-19 boleh mengonsumsinya secara sembarangan atau tanpa izin dokter penanggung jawab maupun pihak fasyankes yang menangani pasien tersebut.

Hal ini sendiri terkait dengan adanya zat aktif remdesivir yang terkandung di dalamnya. Selain Remdesivir obat lainnya yang sudah mendapatkan EUA sebagai obat Covid-19 adalah Favipiravir.

Obat steroid

Obat steroid
Source: Pixabay

Jenis obat covid isolasi mandiri berikutnya yang tidak boleh dikonsumsi adalah steroid.

Mungkin hal ini masih menjadi pertanyaan untuk sebagian orang karena, salah satu jenis steroid sempat diklaim mampu meningkatkan potensi kesembuhan pasien Covid-19 adalah Deksametason.

Namun, menurut Infectious Disease Society of America, obat ini sebaiknya tidak diberikan untuk pasien dalam kasus Covid-19 yang ringan, karena dapat membatasi kemampuan tubuh untuk melawan virus.

WHO Indonesia mengatakan hindari juga untuk melakukan pengobatan sendiri dengan steroid, alasannya penggunaan yang tidak tepat dapat berdampak serius dan mengancam nyawa, termasuk infeksi mukormikosis (jamur hitam)

Dari fakta di atas terlihat bukan kalau pasien Covid-19, tidak boleh sembarang mengonsumsi obat saat melakukan isolasi mandiri.

Pastikan untuk mengonsumsi makanan yang tepat dan hanya mengonsumsi paket obat dan vitamin yang berasal dari dokter atau pemberian pemerintah.

Dalam programnya pemerintah akan memberikan paket obat yang berbeda sesuai dengan tingkat gejala covid yang muncul. Misalnya paket vitamin C, vitamin D dan jenis lainnya, bagi warga dengan hasil PCR positif tanpa gejala.

Sedangkan untuk warga yang positif covid dengan gejala demam dan kehilangan indera penciuman akan mendapatkan obat dan vitamin. Sementara itu obat yang berbeda akan diperuntukan untuk warga dengan PCR positif dengan keluhan demam dan batuk kering.

Selain mengikuti anjuran dokter, pastikan untuk tetap melakukan pemantauan kesehatan selama 14 hari. Cek secara berkala apakah kadar oksigen dalam darah menurun atau tidak. Untuk lebih lanjut kamu bisa membaca panduan isolasi mandiri yang tepat.

Setelah dinyatakan sembuh pastikan untuk tetap menjaga protokol kesehatan, untuk mencegah penularan virus yang mungkin terjadi. Terlebih lagi jika ada anggota keluarga yang masuk dalam golongan rentan terpapar.