Efektivitas Vaksin Sinovac Menurut WHO, Kemenkes & Para Ilmuwan

0
826
vaksin sinovac
Source: Bloomberg

Efektivitas vaksin sinovac buatan Tiongkok sampai saat ini masih menjadi pertanyaan besar bagi banyak orang.

Terlebih lagi saat ini masih banyak ratusan tenaga kesehatan dari berbagai negara tertular maupun mengalami kematian akibat COVID-19, meskipun telah usai mendapatkan vaksin dua dosis.

Karena inilah muncul issue baru kalau perlu ada booster yaitu vaksin tambahan setelah mendapatkan dua dosis vaksin Sinovac. Lalu apakah kabar ini benar atau hanya hoax? mari lihat penjelasannya

Hasil Studi Mengenai Efikasi vaksin Sinovac

Efektifitas vaksin Sinovac
Source: Bloomberg

Untuk menguji efektivitas vaksin Sinovac ada beberapa hasil pengujian yang dapat menjadi acuan

WHO

Saat ini vaksin Sinovac masih menjalani uji klinis lanjutan untuk meninjau lebih lanjut tingkat kemanjurannya.

WHO mengatakan sampai hari ini menunjukkan jenis vaksin ini mampu mencegah penyakit bergejala pada 51% dari mereka telah mendapat vaksin. Serta mencegah COVID-19 parah dan rawat inap pada 100% pada populasi yang diteliti.

Kelompok Penasihat Strategis (SAGE)

Penasihat Strategis WHO telah mengatakan sebelumnya bahwa kemanjuran vaksin dalam uji klinis Fase III multi-negara berkisar antara 51% hingga 84%.

Dalam evaluasi awal, panel SAGE menemukan bahwa suntikan itu efektif dalam mencegah Covid-19 pada orang dewasa di bawah 60 tahun. Akan tetapi beberapa untuk menangani risiko efek samping yang serius masih kurang. 

Sehingga Pakar SAGE, yang mengeluarkan rekomendasi kebijakan untuk negara bagian dan pedoman dosis, meninjau data klinis Sinovac bulan lalu.

Ketua dan kepala eksekutif Sinovac

Weidong Yin selaku ketua dan kepala eksekutif Sinovac mengatakan kalau sudah ada dasar ilmiah yang kuat dari vaksin Sinovac , sehingga beliau mendorong agar suntikan tersebut bisa disetujui oleh lebih dari 40 negara juga WHO.

Tapi sayangnya pada bulan April dan Mei 2021 lalu, vaksin Sinovac lalu gagal mendapatkan Emergency Use Listing (EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam hal ini EUL yang dikeluarkan oleh WHO terhadap vaksin-vaksin di dunia sudah memenuhi standar internasional dalam pembuatan, kemanjuran dan keamanan.

Namun jangan khawatir karena kini, efikasi vaksin ini sudah memenuhi persyaratan WHO yaitu berada pada angka lebih dari 50%.

Ilmuwan China

Dari hasil studi menunjukkan kemanjuran vaksin Sinovac memudar setelah 6 bulan, dan hal ini terungkap dari ilmuwan China.

Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan CDC masih belum merekomendasikan suntikan penguat. Pasalnya penelitian masih dalam tahap pengembangan, serta belum ada informasi yang cukup, ujar Direktur Imunisasi WHO Dr Kate O’Brien

Kementerian Kesehatan

Pada 13 Agustus Kemenkes telah merilis studi terbaru tentang efektivitas Vaksin Sinovac, apa hasilnya?

Menurut penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan jika vaksin Sinovac masih efektif untuk menurunkan resiko COVID.

Meskipun pada periode April-Juni 2021 dilaporkan sebanyak 5 % dari tenaga kesehatan yang telah mendapatkan vaksinasi lengkap tetap terpapar COVID-19. Angka persentase ini lebih besar jika dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang terpapar pada Januari-Maret 2021 yang jumlahnya hanya 0.98 persen.

Namun data lainnya menunjukan jumlah tenaga kesehatan yang telah mendapat vaksinasi lengkap, dan harus mengalami perawatan jauh lebih rendah (0,17 persen), ketimbang mereka yang belum menerima vaksinasi (0,35 persen).

Hal ini terjadi salah satunya karena kemunculan virus corona varian baru yaitu varian Delta, yang memiliki tingkat penularan lebih tinggi.

Juru bicara vaksinasi COVID Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi juga meyakini penggunaan vaksin Sinovac dalam upaya melakukan penanggulangan pandemi COVID-19 masih sangat efektif.

Terbukti kematian karena covid-19 yang terjadi pada jumlah tenaga kesehatan jauh lebih tinggi dari yang belum menerima vaksin lengkap.

Begitu juga tenaga kesehatan yang baru mendapat vaksinasi dosis pertama, jumlah yang meninggal akibat COVID-19 relatif lebih banyak daripada mereka yang menerima dosis lengkap.

Dari studi tersebut menunjukan pada periode April-Juni, efektivitas Corona Vac dalam mencegah perawatan dan kematian lebih rendah dari sebelumnya. Yang mana sebelumnya pada periode Januari-Maret adalah 74 persen, menurun menjadi 53 persen di April-Juni.

Sementara efektivitas CoronaVac dalam mencegah kematian adalah 95 persen (53-99 persen) pada Januari-Maret, berkurang menjadi 79 persen (20-94 persen) pada periode April-Juni 2021.

Untuk menilai efektivitas vaksin covid-19 sinovac terhadap VOC yang bersirkulasi di Indonesia, masih memerlukan kajian yang lebih komprehensif. Meski demikian vaksinasi lengkap masih efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh, serta mampu mencegah perawatan dan kematian pada tenaga kesehatan.

Apakah butuh vaksin booster setelah menerima dua dosis Sinovac?

Vaksin Moderna booster vaksin sinovac
Source: Kominfo Jatim

Menurut Medical News Today, vaksin booster atau penguat vaksin adalah dosis vaksin tambahan yang berfungsi untuk memberikan perlindungan ekstra terhadap penyakit karena adanya efek penurunan efektivitas vaksin dari yang dapat menurun seiring waktu. 

Terlebih lagi untuk mereka yang bekerja pada lingkungan yang paparan virusnya tinggi. Pasalnya vaksin apapun mau memiliki efikasinya setinggi apapun, tetap kurang optimal melindungi jika virusnya terlalu banyak

Karena hal inilah saat ini booster masih diperuntukan untuk para pekerja medis, dan belum diberikan untuk masyarakat umum. 

Tertulis dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor: HK.02.01/1/1919/2021 tentang Vaksinasi Dosis Ketiga Bagi Seluruh Tenaga Kesehatan, Asisten Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Penunjang yang Bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Menegaskan SE tersebut, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmidzi, juga mengatakan bahwa pemerintah menetapkan penggunaan vaksin Moderna sebagai vaksin booster hanya untuk tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang saat ini jumlahnya kurang lebih 1,5 juta orang.

Karena hal inilah dr. Nadia memohon agar publik tidak memaksa diri untuk mendapatkan vaksin tambahan.

Sementara itu bagi masyarakat umum yang belum mendapatkan vaksin, Moderna akan  mulai diberikan sebagai dosis 1 dan 2 tapi bukan sebagai booster

Nantinya pemberian vaksin COVID-19 Moderna akan dilakukan sebanyak 2 (dua) dosis dengan interval 4 minggu.

Dari hal inilah indonesia kembali kedatangan vaksin yang dialokasikan pada minggu ke 2 Agustus 2021, yang diprioritaskan untuk memenuhi stok vaksin dosis kedua sekaligus.  Tertulis dalam surat edaran perihal ‘Alokasi Distribusi Vaksin COVID-19 Moderna COVAX Facility M2 Agustus 2021.

Bagi kamu yang belum bisa mendapatkan vaksin karena alasan-alasan tertentu, jangan khawatir karena kamu dapat melakukan pencegahan secara mandiri dengan berjemur yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh, mengonsumsi makanan vitamin D secara teratur. Selain itu pastikan juga untuk berolahraga, dan memiliki alat kesehatan yang berguna untuk memantau kesehatan tubuh secara mandiri.

Misalnya menggunakan produk Sowell yang sudah terpercaya dan melewati uji klinis. Selain itu peralatan kesehatan yang mengusung tekonolgi dari jerman ini juga sangat beragam, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Dapatkan semua produk oximeter terbaik, pengukur tekanan darah hanya di Ruparupa.