Harga Tes PCR Terbaru Berdasarkan Wilayah Pemeriksaan

0
859
Harga tes PCR

Pada 15 Agustus lalu, Presiden Joko Widodo meminta untuk melakukan perubahan harga tes PCR (Polymerase Chain Reaction) yang semula berada pada harga Rp1-2 juta rupiah, turun menjadi rp Rp 450.000-Rp 550.000.

Namun tentunya ada harus ada perhitungan yang tepat mengingat faktor faktor pertimbangan yang terlibat seperti biaya transportasi dan sebagainya.

Dari hal tersebut muncul penerapan harga terbaru seperti berikut ini

Harga Test PCR Terbaru Berdasarkan Arahan Presiden Jokowi

jOKOWI MINTA HARGA TES PCR TURUN

Akhirnya permintaan Jokowi terwujud. Pasalnya saat ini sudah ditetapkan batas tarif swab test yang dinilai wajar. Namun tetap harus tetap disesuaikan dengan daerah masing-masing

Wilayah Jawa dan Bali batas tarif tertinggi tes realtime-PCR Rp 495.000

Wilayah di luar Jawa dan Bali batas tarif tertinggi adalah Rp525.000.

Alasn mengapa harga pada setiap wilayah berbeda, karena adanya pertimbangan faktor biaya transportasi.

Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir, yang mengatakan karena daerah-daerah di Pulau Jawa-Bali merupakan pusat perdagangan. Sehingga tidak membutuhkan biaya transportasi terlalu besar dalam pengadaan tes PCR.

Sementara itu kondisi berbeda terjasi pada luar pulau. Jarak laoboratorium yang berada ada daerah luar Jawa-Bali seperti Kalimantan, Sumatera, atau Papua, tentunya membutuhkan biaya transportasi

Kadir juga mengatakan, variabel transportasi inilah yang menjadi tambahan dalam unit cost sehingga muncul angka Rp 525 ribu rupiah.

Dengan menghitung biaya transportasi tersebut, akhirnya muncul perhitungan akhir. Yaitu batas harga tertinggi tes PCR untuk daerah di luar Jawa-Bali jadi lebih mahal.

Lebih lanjut, Kadir mengatakan, ketentuan harga tes PCR akan berlaku mulai Selasa (17/8/2021) sesuai surat edaran Kemenkes.

Tentunya penerapan ini menimbulkan pro dan kontra yang muncul, dengan berbagai alasan tersendiri yang penjelasannya berada pada informasi di bawah ini

Asal Muasal harga test PCR yang tinggi

Penyebab harga test pcr tinggi
Source: Flicker cc

Kementerian Kesehatan mengungkapkan, penyebab mahalnya tarif PCR di awal pandemi , karena adanya segelintir orang yang membandrol alat-alat kesehatan dengan harga tinggi.

Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir, mengatakan saat itu kita melakukan perhitungan unit cost berdasarkan kepada harga pada saat itu.

Yang mana harga unit cost sekitar Rp 800.000 lebih, dan kemudian laboratorium akan mendapat keuntungan sekitar 20 persen.

Belum lagi adanya perhitungan tenaga ATLM (Ahli Teknologi Laboratorium Medik), jasa dokter, tenaga laboratorium,  dan jasa pengambil spesimen.

Ada juga  komponen alat medik habis pakai yang masuk dalam hitungan. Mulai dari cover sepatu, cover kepala, alkohol, hazmat, masker N95, hingga masker bedah.

Selanjunya komponen reagen, yang  terdiri dari reagen ekstraksi RNA dan komponen reagen sendiri. Berikutnya ada biaya operasional seperti listrik, air, administrasi. Dari keseluruhaan perhitungan inilah, muncul beberapa komponen keuntungan untuk pihak fasilitas kesehatan. Namun, besarannya jauh berkurang jika dibandingkan saat harga PCR masih Rp 900.000.

Selain itu permainan harga muncul karena adanya pihak fasilitas kesehatan yang menawarkan kecepatan menerima hasil tes PCR. Misalnya jika ingin memperoleh hasil hanya 12 jam, maka harga yang ditawarkan lebih mahal.

Seharunya hal ini tidak perlu terjadi, mengingat alat polymerase chain reaction rt PCR yang dimiliki sejumlah rumah sakit sudah cukup canggih untuk memperoleh hasil lebih cepat.

Idealnya tarif ideal tes PCR ada di kisaran Rp350.000. Biaya ini sudah terhitung dari sisi investasi dan biaya operasional yang sudah ada. Bahkan dari angka ini pengusaha sudah mendapat keuntungan dari harga tersebut

Esa bahkan hanya bisa tertawa, ketika laboratorium dan fasilitas kesehatan tes PCR menjamur. Dengan alasan turut serta dalam penanganan Covid-19.

Dari hal inilah muncul kesimpulan, harga tes PCR tetap mahal meski sudah mengalami penurunan.

Penilaian ini sendiri bukan lagi rahasia, terutama bagi mereka yang bekerja di kalangan dunia kesehatan. Termasuk para supplier Alat Kesehatan (Alkes).

Alibi harga tinggi karena adanya komponen yang harus merupakan barang import, seharusnya bukan lagi menjadi pembenaran. Terlebih karena saat ini banyak komponen kit tes realtime PCR yang berasal dari dalam negeri. Dari sekian banyak komponen, hanya satu yang harus didatangkan dari luar negeri yaitu reagen.

Pro & Kontra Turunnya Harga PCR test

Test PCR
Source: pixabay

Bagi sebagian pihak yang menyetujui permintaan ini menganggap, ada segelintir oknum yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Terutama di masa awal pandemi Covid.

Dilansir dari Merdeka.com, Direktur utama Marketing Hamera Lab Esa Tjatur Setiawan mengungkapkan “Janganlah pura-pura. Hanya reagen yang susah dimonopoli, tapi reagen sendiri sekarang harganya sudah tidak mahal.

Lebih lanjut Esa Tjatur Setiawan melihat, dengan harga tes PCR Rp 500.000 pengusaha fasilitas kesehatan tetap mendapatkan untung besar.

Terlihat dari feasibility study yang Hamera Lab pernah lakukan, menunjukan jika dengan penerapan harga baru, keuntungan fasilitas kesehatan tetap bisa menyentuh hampir 150 persen. Bisa dibayangkan sebelumnya berapa banyak keuntungan seluruh laboratorium di dalam negeri, jika menerapkan harga PCR Rp900.000.

Dengan adanya penurunan tarif tes pcr covid-19, tetap akan membuka ruang lebar kepada para pengusaha laboratorium untuk mendapatkan untung. Meskipun komponen reagen harus berasal dari negara Korea, China, Singapura atau Eropa.

Namun berbeda dengan Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Randy Hendarto yang memiliki opini berlawanan.Randy mengatakan mahalnya harga PCR di Indonesia karena adanya proses pengolahan bahan baku yang terjadi.

Terkait prosesnya, tentunya membutuhkan biaya yang besar. Sehingga tidak bisa membandingkan harga tes PCR dengan negara India yang mematok harga lebih murah. Mengingat negara India ini sudah menggunakan alat produksi , dan komponen bahan bakunya yang berasal dari dalam negeri.

Randy juga mengungkapkan jika memasok impor bahan baku komponen itu lebih mahal karena harus ada pajak yang harus diperhitungkan. Berbeda jika mengimpor barang jadi yang tentunya akan bebaskan pajak.

Perbandingan harga test PCR di Indonesia dengan negara India

Negara India
Source: Pixabay

Jika harus membandingkan negara lain dalam satu kawasan yang sama, negara India merupakan wilayah yang memiliki harga PCR termurah.

Pasalnya pemerintah Kota Delhi menetapkan harga PCR sebesar 500 rupee atau setara dengan Rp96.000 ribu rupiah. Harga ini sudah mengalami perubahan mengingat awalnya berada pada kisaran 800 rupee atau setara Rp 150.000.

Ya, berharap dengan adanya penurunan harga ini, masyarakat akan jauh merasa lebih tenang.

Tidak terasa kita sudah berada pada bagian akhir seputar harga test pcr dan penyebabnya. Untuk mendapatkan informasi lainnya mengenai perbedaan test pcr, antigen, dan antibodi, atau ingin mengetahui cara cek sertifikat vaksin segera kunjungi blog Ruparupa yang mengabarkan informasi terkini dan terpercaya.

Selain itu kunjungi website atau aplikasi Ruparupa yang menyediakan berbagai jenis kebutuhan rumah tangga, hobi dan alat kesehatan yang terpercaya. Dapatkan dengan harga terbaik, yang terjamin kualitasnya. Karena kami selalu menawarkan produk unggulan yang beragam.