Gemini Man (2019) merupakan film Action, Sci-Fi yang dibintangi oleh Will Smith dan Mary Elizabeth-Winstead. Film ini menceritakan tentang seorang pembunuh bayaran elite yang harus melawan kloningan dirinya yang lebih kuat.

Nah, kali ini saya akan membahas dari segi Cast, Plot dan Review.

Plot

Henry Brogan, pembunuh bayaran berusia 51 tahun yang mulai menjalani masa pensiun nya setelah menyelesaikan misi ke-72 nya. Tetapi, rencana pensiunan nya menjadi gagal setelah Henry menjadi target pembunuhan dari seorang agen misterius yang mengetahui seluruh gerakannya.

Gemini Man (2019)
Henry (Kanan) dengan Kloning nya

Yang membuat Henry takut, ia mengetahui kalau agen yang mencoba membunuhnya merupakan versi kloningan dirinya yang lebih kuat, cepat dan muda.

Dibantu oleh Dani, seorang agen yang ditugaskan untuk memata-matai seluruh kegiatan Henry, mereka berdua mencoba untuk mencari dalang dibalik semua ini dan siapa sebenarnya cloning dari Henry

Akankah Henry bisa selamat dari ancaman ini?

Cast

Berikut merupakan daftar dari pemain film Gemini Man (2019) :

Will Smith sebagai Henry Brogan / Junior

Gemini Man (2019)

Mary Elizabeth-Winstead sebagai Dani Zakarweski

Gemini Man (2019)

Clive Owen, sebagai Clayton Verris

Gemini Man (2019)

Benedict Wong, sebagai Baron

Gemini Man (2019)

Review

** SPOILER WARNING **

BAGI YANG BELUM MENONTON FILM INI, MOHON UNTUK TIDAK SCROLL KEBAWAH KARENA AKAN MENGANDUNG SPOILER!

Prologue film ini diceritakan dengan Henry Brogan yang sedang menjalankan misi terakhirnya sebelum pensiun, dan transisi ke inti film nya menurut saya kurang “heboh” alias membosankan. Jadi, inti dari cerita ini adalah Henry yang mengetahui rahasia tentang “misi terakhir” nya, ia langsung diincar oleh Agency yang merupakan tempat ia bekerja.

Gemini Man (2019)
Junior, Cloning dari Henry

The Problem With CGI + High Frame Rates.

Masalah yang terdapat dalam film ini yaitu CGI (Computer-Generated Imagery) yang masih kurang “diasah”, jadi kamu masih bisa melihat dengan jelas CGI nya. Contohnya momen dimana Henry sedang berkelahi dengan Junior, akan sangat kelihatan sekali CGI yang masih “mentah”, hal ini dikarenakan perekaman film dilakukan dengan menggunakan frame rate ( Jumlah bingkai gambar atau frame yang ditunjukkan setiap detik dalam membuat gambar bergerak ) sebesar 120, yang menurut saya sangat tidak cocok, begitu pula pandangan kritikus film lainnya.

Penggunaan Frame Rate yang tinggi ini awalnya ditujukan untuk memberikan gambar yang lebih jernih, smooth, dan realistis, akan tetapi, hanya beberapa Cinema yang mampu menampilkan frame rate sampai 120, sisanya hanya terbatas hingga 60 fps. Pada umumnya, film biasa direkam dengan fps (Frame Rate per Second) paling standar yaitu sebesar 24 menurut Society of Motion Picture and Television Editors (SMPTE).

Less Action, More Talk.

Ya, sesuai dengan judul nya, film ini terlalu banyak melakukan “percakapan” yang menurut saya terlalu banyak basa-basi dan tidak to the point. Menurut saya, film ini hanyalah film story-telling dengan action sequence yang sedikit. Bahkan, action sequence yang ada pun menurut saya sangat hambar, mulai dari pertama kali bertemu dengan Junior sampai dengan membunuh Clay Verris. Dengan budget sebesar US $138 Juta, seharusnya bisa lebih lagi dalam pembuatan action sequences.

Tapi, coba lihat sisi positifnya

Peran Will Smith sebagai Henry Brogan dan Junior patut diacungkan jempol, meskipun film ini mengalami kerugian $ 75 juta, Will Smith tetap menjiwai perannya sebagai pembunuh bayaran dan kembarannya ini. Dan seperti biasa, Will Smith tidak pernah membosankan dalam memainkan perannya, seperti di film lainnya :

I Am Legend (2007) sebagai Robert Neville , film yang mengisahkan tentang dunia yang berada dalam situasi post-apocalyptic, yang hampir semua penduduk bumi menjadi zombie.

Men In Black (1997) sebagai Agent J, film tentang sebuah organisasi yang mengawasi bumi dari ancaman luar seperti alien.

Independence Day (1996) sebagai Captain Steven Hiller, mengisahkan tentang bumi yang diinvasi oleh Alien.

Kesimpulan

Menurut saya, film ini banyak sekali potensi yang sangat disayangkan, seharusnya dalam proses pembuatan film, produser dan cinematographer tidak hanya mementingkan tingginya frame rate, tetapi eksekusi nya, karena tidak semua cinema menyediakan fps tinggi.

Jalan cerita juga seharusnya bisa dibuat lebih “wow” lagi, dengan menggunakan plot-twist yang tidak bisa kita duga, atau action sequence tanpa menggunakan bantuan CGI, seperti film Iko Uwais “The Raid, The Night Come For Us, Headshot”.

Kepo dengan review film lainnya? Tunggu artikel selanjutnya tentang Terminator: Dark Fate yang akan di upload dalam waktu dekat. Nah, sambil menunggu, bagaimana kalau kamu belanja online 11.11 dulu di Ruparupa. Mumpung ada promo 11.11 Double Eleven hingga 11 November 2019 nanti. Kamu bisa nikmati Serba Rp 110 Ribu, Serba Rp 1.1 Juta, bahkan Cashback 100%*. Buruan kunjungi Ruparupa!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here